Dugaan Pelanggaran Sistemik PDAM Halsel: Harmain Rusli Desak Pembatalan Tagihan dan Evaluasi Manajemen

- Penulis

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halmahera Selatan, 14 Mei 2026 – Dugaan permasalahan sistemik kembali mencuat dalam kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Halmahera Selatan. Menanggapi lonjakan tagihan air hingga Rp967.500 yang menimpa salah satu pelanggan, Ketua DPC GPM Halmahera Selatan, Harmain Rusli, S.H., menyatakan terdapat indikasi kuat pelanggaran hukum yang dilakukan manajemen PDAM secara berulang.

Dalam keterangan pers yang disampaikan Kamis (14/5/2026), Harmain menilai sikap manajemen yang membebankan seluruh kesalahan kepada pelanggan tidak dapat diterima. Padahal, data lonjakan pemakaian telah tercatat sejak empat bulan sebelumnya tanpa ada tindakan pencegahan maupun pemberitahuan kepada pelanggan.

“Ini bukti nyata adanya penyakit kronis dalam tata kelola PDAM. Manajemen memegang data sejak Desember 2025, tetapi baru bersuara ketika tagihan sudah hampir mencapai satu juta rupiah. Diamnya PDAM selama empat bulan saat mengetahui adanya ketidak wajaran menunjukan sikap yang tidak profesional dan tidak bertanggung jawab,” tegas Harmain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, PDAM telah gagal menjalankan fungsi pengawasan dan kewajiban memberikan informasi yang benar kepada konsumen. Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya Pasal 7 huruf b yang mewajibkan pelaku usaha beritikad baik, dan Pasal 8 huruf a yang melarang perbuatan yang merugikan konsumen.

Harmain menambahkan, tindakan tersebut juga diduga melanggar Pasal 18 ayat huruf f UU No. 8/1999 yang melarang pencantuman klausula baku yang mengalihkan tanggung jawab yang seharusnya berada pada pelaku usaha kepada konsumen.

Selain itu, PDAM dinilai mengabaikan prinsip pelayanan publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, khususnya Pasal 4 dan Pasal 5. Lembaga pelayanan publik wajib memberikan layanan yang akuntabel, responsif, dan tidak merugikan masyarakat.

Harmain juga menyoroti kemungkinan pelanggaran terhadap kewajiban tera ulang alat ukur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 77/M-DAG/PER/12/2016 tentang Alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari manajemen mengenai kalibrasi dan keakuratan meteran air yang digunakan.

“Jika tidak ada bukti sah atas akurasi alat ukur, maka dasar penagihan tersebut cacat hukum dan tidak dapat dibenarkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Harmain menilai Direktur Utama PDAM berpotensi melakukan maladministrasi berat yang bertentangan dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 54 Tahun 2017 tentang Badan Usaha Milik Daerah. Pembiaran terhadap sistem kerja yang merugikan masyarakat dinilai sebagai bentuk kelalaian tugas.

Berdasarkan Pasal 97 ayat UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai. Jika kebijakan yang merugikan ini dibiarkan berulang, Harmain menyebutnya berpotensi masuk ranah pidana sesuai Pasal 422 UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP tentang penyalahgunaan jabatan oleh pejabat.

Ia menegaskan bahwa kebijakan keringanan atau cicilan yang ditawarkan manajemen bukanlah prestasi, melainkan kewajiban yang muncul akibat kelalaian PDAM sendiri.

“Klarifikasi Dirut PDAM keliru, sepihak, dan melanggar banyak ketentuan. Kami menuntut PDAM segera membatalkan kelebihan tagihan akibat kelalaian internal, memperbaiki sistem pengawasan, dan agar Dirut mempertanggungjawabkan pelanggaran aturan yang terjadi,” pungkas Harmain.

Sebagai bentuk protes, GPM Halmahera Selatan menyatakan akan menggelar aksi di depan Kantor PDAM Halmahera Selatan. Jika manajemen tetap mempertahankan kebijakan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, GPM juga akan melaporkan kasus ini secara resmi ke Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Maluku Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel elevasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keretakan Manajemen Sekolah di Desa Talimau: Siswa SMP Nurul Hasan Terancam Lumpuh Operasional, Warga Desak Pemkab Halsel Turun Tangan
PPDB Diduga Tak Berjalan, SDN 241 Halmahera Selatan Belum Bentuk Panitia, Dinas Pendidikan Diminta Segera Evaluasi Kepala Sekolah
MATAMUDA 2026 Resmi Digelar, Madrasah Aliyah Alkhairaat Labuha Siapkan Generasi Berakhlak Mulia, Cerdas, Unggul, Madani, dan Moderat
Awali Perjalanan Pendidikan dengan Semangat, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bacan Gelar MPLS 2026
Di Balik Proses yang Sulit, Pendidikan Melahirkan Masa Depan yang Manis
Perkelahian Berulang di Desa Sum Obi Timur Jadi Sorotan, Warga Pertanyakan Peran Pemerintah Desa
SDN 241 Halmahera Selatan Jadi Sorotan, Kondisi Sekolah Memprihatinkan dan Pengelolaan Dana BOS Afirmasi Dipertanyakan
Aset Desa Diduga Hilang dari Pengawasan, Kadis DPMD Diminta Panggil Kades Loleo Mekar
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 22:55 WIB

Keretakan Manajemen Sekolah di Desa Talimau: Siswa SMP Nurul Hasan Terancam Lumpuh Operasional, Warga Desak Pemkab Halsel Turun Tangan

Senin, 20 Juli 2026 - 13:46 WIB

PPDB Diduga Tak Berjalan, SDN 241 Halmahera Selatan Belum Bentuk Panitia, Dinas Pendidikan Diminta Segera Evaluasi Kepala Sekolah

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:13 WIB

MATAMUDA 2026 Resmi Digelar, Madrasah Aliyah Alkhairaat Labuha Siapkan Generasi Berakhlak Mulia, Cerdas, Unggul, Madani, dan Moderat

Senin, 13 Juli 2026 - 01:43 WIB

Awali Perjalanan Pendidikan dengan Semangat, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bacan Gelar MPLS 2026

Minggu, 5 Juli 2026 - 03:59 WIB

Di Balik Proses yang Sulit, Pendidikan Melahirkan Masa Depan yang Manis

Berita Terbaru