LABUHA, HALMAHERA SELATAN— Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat ” Silfani Abubakar” untuk meraih cita-cita. Sempat menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan biaya, Silfani akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi dan diwisuda pada 2026 dengan masa studi tepat 8 semester. Ia juga berhasil meraih nilai tertinggi kedua.
Silfani merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang panjat kelapa, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga yang turut membantu perekonomian keluarga dengan membuat berbagai macam kue untuk kemudian dititipkan di warung-warung.
Perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan tidaklah mudah bagi Silfani. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat dirinya harus mengambil keputusan untuk beristirahat dari bangku kuliah selama satu tahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, keadaan tersebut tidak membuat Silfani menyerah. Setelah melewati masa penundaan, ia kembali melanjutkan pendidikan di Kampus ” ISDIK Kie Raha Maluku Utara ( Institut Sains dan Kependidikan Kie Raha Maluku Utara). Ternate, Provinsi Maluku Utara , pada tahun 2022.”
Dengan tekad dan kerja keras, Silfani terus menjalani perkuliahan iyah Mengambil jurusan Biologi hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikannya di Hari Sabtu, tanggal 05 September pada tahun 2026. Ia berhasil menuntaskan masa studinya selama 8 semester dan meraih prestasi akademik sebagai peraih nilai tertinggi kedua dengan IPK: 3,70
Sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi, Silfani menempuh pendidikan di SD Negeri Waya, kemudian melanjutkan ke MTs Alkhairaat Labuha. Setelah itu, ia bersekolah di SMA Alkhairaat Labuha dan menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 2021.
Keberhasilan Silfani menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, perjuangan ayah yang bekerja sebagai tukang panjat kelapa serta usaha sang ibu membuat kue dan menitipkannya di warung-warung menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan Silfani.
Prestasi yang diraih Silfani sekaligus menjadi bukti bahwa kondisi ekonomi bukanlah alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Dengan semangat, ketekunan, serta dukungan keluarga, ia mampu bangkit setelah sempat berhenti kuliah dan akhirnya meraih gelar sarjana dengan prestasi yang membanggakan.
Kisah Silfani diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana, agar tidak mudah menyerah dalam mengejar pendidikan dan cita-cita.











