Ratapan dari Tanah yang Direnggut: Ketika Air Mata Rakyat Tak Lagi Didengar

- Penulis

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halmahera Selatan, di bawah langit yang sama yang selama ini menaungi harapan, hari itu berubah menjadi saksi bisu runtuhnya kehidupan banyak orang. Ratusan warga Kawasi dan Soligi datang bukan sebagai massa yang marah semata—mereka datang sebagai manusia yang kehilangan. Kehilangan tanah, kehilangan harapan, dan perlahan… kehilangan kepercayaan.

Apa yang terlihat sebagai aksi di depan kantor CSR Harita Group sejatinya adalah jeritan panjang yang selama ini tertahan. Jeritan yang tak lagi mampu disimpan, hingga akhirnya pecah di ruang publik. Mereka tidak sedang mencari sensasi. Mereka sedang mencari keadilan—sesuatu yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, tapi bagi mereka terasa semakin jauh.

Di tengah kerumunan itu, berdiri seorang lelaki tua bernama Alimusu. Tubuhnya mungkin biasa saja, tapi beban yang ia pikul hari itu jauh melampaui kekuatannya. Ketika ia berbicara, suaranya bergetar—bukan karena takut, tetapi karena hatinya sudah terlalu lelah menahan semuanya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya hanya orang kecil…” kalimat itu meluncur pelan, seolah ia sendiri ragu apakah dunia masih mau mendengar orang seperti dirinya.

Lalu ia melanjutkan, dengan suara yang hampir patah:

“Kalau tanah itu hilang… anak-anak saya nanti makan apa?”

Tidak ada yang lebih menyayat dari pertanyaan itu. Karena itu bukan sekadar keluhan—itu adalah jeritan seorang ayah yang melihat masa depan anak-anaknya perlahan menghilang di depan mata, tanpa bisa ia cegah.

Di tanah itulah ia menanam sekitar 400 pohon cengkeh. Bukan hanya pohon, tapi waktu. Tahun demi tahun kerja keras, doa yang tak pernah putus, dan harapan sederhana untuk hidup layak. Kini, semua itu seperti dihapus begitu saja. Tanpa penjelasan yang cukup, tanpa rasa keadilan yang bisa ia genggam.

Namun luka itu tidak berhenti di sana. Yang lebih dalam justru datang dari rasa ditinggalkan. Warga sudah berulang kali mengadu, mengetuk pintu yang mereka percaya sebagai tempat berlindung terakhir—pemerintah daerah. Tapi yang mereka temui hanyalah sunyi.

Karena dalam kondisi seperti ini, diam bukan sekadar tidak bersuara. Diam adalah keputusan. Diam adalah jarak. Diam adalah tanda bahwa penderitaan rakyat belum cukup penting untuk dijawab.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa tetap tenang, ketika rakyatnya menangis di depan mata?

Bagaimana mungkin jeritan seorang ayah tentang nasib anak-anaknya tidak mampu menggugah hati?

Hari itu, di antara teriakan dan tangis, ada sesuatu yang lebih besar sedang runtuh: rasa percaya. Ketika rakyat merasa tidak lagi dilindungi, tidak lagi didengar, maka yang hilang bukan hanya tanah—tetapi juga harapan akan keadilan.

Dan jika harapan itu mati, apa lagi yang tersisa?

Aksi warga Kawasi dan Soligi bukanlah akhir. Itu adalah tanda bahwa luka ini masih terbuka. Bahwa ada ketidakadilan yang belum selesai. Bahwa ada manusia-manusia kecil yang masih menunggu—bukan belas kasihan, tapi keberpihakan.

Di balik semua itu, tangis Alimusu akan terus terngiang. Bukan karena dramatis, tetapi karena jujur. Karena di dalamnya ada kebenaran yang tak bisa disembunyikan:

bahwa pembangunan yang mengabaikan manusia, pada akhirnya hanyalah bentuk lain dari kehilangan.

Dan jika hari ini kita masih memilih untuk tidak mendengar, maka suatu saat nanti, ketika lebih banyak Alimusu berdiri dan bertanya hal yang sama—

“Anak-anak kami nanti makan apa?”

kita mungkin sudah tidak punya jawaban lagi.

Karena yang telah hilang, bukan hanya tanah mereka.

Tetapi juga nurani kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel elevasimedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BADKO HMI Maluku Utara: Permintaan Pemberian Sanksi PPPK SDN 173 Halsel Sarat Tuduhan, Minim Pembuktian
Polemik SDN 173 Halsel Kian Memanas, Surat Bermaterai Kepala Sekolah Tuai Sorotan Tajam Publik
BADKO HMI Maluku Utara Soroti Proyek SDN 173 Halsel yang Molor Dua Tahun, Bupati Bassam Kasuba Tidak Boleh Diam
Dugaan Pelanggaran Sistemik PDAM Halsel: Harmain Rusli Desak Pembatalan Tagihan dan Evaluasi Manajemen
GPM Halsel Harmain Rusli Banta Klarifikasi yang Disampaikan Dirut PDAM 
Belum Kantongi Dokumen Akreditasi, SD Negeri 173 Halsel Terancam Ditutup: “Kalau Sekolah Dicabut, Anak Kami Mau Jadi Apa?”
Apa Kabar Masa Depan Kami? Potret Kehilangan Akreditasi di SD Negeri 173 Halmahera Selatan
Usai Makan Siang Bersama, Panitia dan Guru SMP Negeri 29 Halmahera Kembali Periksa Bahan Ujian
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:04 WIB

BADKO HMI Maluku Utara: Permintaan Pemberian Sanksi PPPK SDN 173 Halsel Sarat Tuduhan, Minim Pembuktian

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:59 WIB

Polemik SDN 173 Halsel Kian Memanas, Surat Bermaterai Kepala Sekolah Tuai Sorotan Tajam Publik

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:10 WIB

Dugaan Pelanggaran Sistemik PDAM Halsel: Harmain Rusli Desak Pembatalan Tagihan dan Evaluasi Manajemen

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:26 WIB

GPM Halsel Harmain Rusli Banta Klarifikasi yang Disampaikan Dirut PDAM 

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:59 WIB

Belum Kantongi Dokumen Akreditasi, SD Negeri 173 Halsel Terancam Ditutup: “Kalau Sekolah Dicabut, Anak Kami Mau Jadi Apa?”

Berita Terbaru

Nasional

Kesempatan Bersalaman dengan Ibu Tinggal Kenangan

Rabu, 27 Mei 2026 - 07:54 WIB